Rekonstruksi Nanang Selembe Berlangsung Ricuh

Wajah "selembe" Nanang kembali diperlihatkan saat rekonstruksi kematian Putri Wulandari (16) di Desa Parit Tengkorak, Kubu Raya, Sabtu (5/4/2014) pukul 09.00 WIB.

Rekonstruksi Nanang Selembe (Kanan) dan Ucok (Kiri)
Rekonstruksi Nanang Selembe (Kanan) dan Ucok (Kiri)
Gaya selembe inilah yang membuat ratusan warga tampak geram dan berulang kali meneriaki bahkan mencaci maki Nanang Selembe dan rekannya, Ucok.
Rekonstruksi yang menghadirkan kedua tersangka ini bahkan membuat keluarga korban histeris.

"Aku ndak terima, woi biadab kau, main bunuh anak orang," teriakan salah seorang keluarga Putri Wulandari ketika melihat kedua tersangka dimasukkan ke dalam Mobil Dalmas Polresta Pontianak, usai rekonstruksi.

Melihat reaksi keluarga korban yang terus meneriaki pelaku, anggota keluarga lainnya langsung menyerbu mobil Dalmas tempat Nanang Selembe dan Ucok diamankan.
Aksi saling dorong dengan petugas kepolisian pun tak terhindarkan.
Untuk mengantisipasi amukan keluarga dan massa, polisi membawa kedua tersangka ke Polresta Pontianak dengan cepat.

Lantaran tidak dapat melampiaskan untuk menghakimi kedua tersangka, salah seorang keluarga korban sembari menangis dan meneriaki, akan melakukan pembalasan, sama dengan apa yang dilakukan tersangka terhadap Putri Wulandari"Aku santet kau nanti, nyawa dibalas nyawa," ancamnya.
Sanak keluarga lainnya ikut amarah dan menangis. "Keponakan saya dibunuh, kurang ajar, tidak ada hati nurani," saat mobil Dalmas yang membawa kedua tersangka melintas meninggalkan lokasi rekonstruksi.

Warga Menyaksikan Rekonstruksi Nanang dan Ucok
Warga Menyaksikan Rekonstruksi Nanang dan Ucok
Pak Polisi dan Nanang Selembe Eksis
Pak Polisi dan Nanang Selembe Eksis

Ungkapan menghujat tidak hanya keluar dari mulut keluarga korban, ratusan warga lain yang turut menghadiri rekonstruksi ini termasuk para pelajar berseragam sekolah berwarna coklat ikut menghujat tersangka. "Wooiii, memang binatang," kata mereka.

Salah seorang warga Pontianak Timur, Rahmad rela datang hanya untuk menyaksikan proses rekonstruksi tersebut untuk mengetahui alur cerita sebenarnya. Dirinya mengaku puas setelah melihat jalannya rekonstruksi.

Ungkapan serupa turut dilontarkan Agustina Wenny. Ia menilai kedua pelaku atas aksi keji yang dilakukan sungguh sangat tidak wajar untuk anak seusianya. Ia berharap hukum dapat diberikan seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatan yang terbilang menjadi isu hangat sepekan ini.

"Semoga saja hukum bisa berbuat adil, sesuai aturan dan perundang-undangan," ungkapnya kepada Pontianak Times di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Saat rekonstruksi, ayah korban, Kusnadi turut hadir. Sedangkan, ibu korban, Agustrini tidak mengikuti jalannya rekonstruksi lantaran masih diselimuti rasa duka atas meninggalnya Putri Wulandari.

Akibat keluarga lain tidak diperbolehkan masuk, menimbulkan kesal dan marah pada aparat kepolisian yang menghalang-halangi untuk menyaksikan rekontruksi.
Namun keluarga korban dan masyarakat semakin brutal dan melepas garis polisi (Police Line) yang dipasang di TKP dan menerobos masuk.

Terlihat ayah korban, Kusnadi, menatap setiap adegan yang diperagakan.
Dengan mulut tertutup, tak sepatah katapun yang diucapkan. Dengan posisi berdiri tegap, ia menghampiri lokasi rekontruksi dari dekat, namun tetap dalam pengawalan ketat puluhan polisi hingga selesainya rekontruksi.

Rekonstruksi Ucok (Depan) dan Nanang Selembe (Belakang)
Nanang Selembe (Tersangka 1)
Nanang Selembe (Tersangka 1)

Sementara itu, Paman korban, Sunaryono mengatakan, awalnya ia tak begitu tahu kejadian yang menimpa keponakan yang begitu amat disayangi dalam silsilah keluarga besarnya itu. Dengan melihat langsung walaupun dari kejauhan jarak sekitar sepuluh meter, paling tidak dirinya tahu jalan cerita kematian korban. "Mudah-mudahan saja rekontruksi ini yang sebenarnya dilakukan pelaku tanpa ada yang ditutup-tutupi," kata Sunaryo kepada Pontianak Times.

Sunaryono menambahkan, semua keluarganya hingga saat ini masih menyimpan duka yang teramat mendalam atas kematian Putri Wulandari yang tanpa diduga sebelumnya.
"Kami masih terpukul dan sakit atas kematian anggota keluarga kami," tambahnya.

Atas kasus ini, dirinya beserta keluarga yang lain akan mengawal kasus keponakannya tersebut hingga tuntas, mulai dari kepolisian, kejaksaan, pengadilan hingga dijatuhkannya vonis terhadap Nanang Selembe dan Ucok.

Pak Polisi - Ucok - Nanang Selembe
Pak Polisi - Ucok - Nanang Selembe
"Kami minta dia dihukum mati, tidak ada tawar-tawar lagi, itu yang adil bagi kami. Dia tidak merasakan apa yang kami rasakan, Putri itu anaknya baik, tidak tahu ini itu, malah dibunuh dan diperlakukan tidak senonoh, siapa yang tidak sakit hati, melihat apa yang dilakukannya," cetusnya.

Walaupun demikian, pihak keluarga sepenuhnya menyerahkan kasus ini pada kepolisian untuk mengusutnya secara tuntas tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Kita lihat nanti, kami serahkan semuanya pada pihak kepolisian. Namun apabila ada kejanggalan-kejanggalan lain, kami pihak keluarga yang akan menghukumnya," tegas Sunaryono.


Sumber Tulisan: http://www.pontianak-times.com/kriminal/050414/rekonstruksi-nanang-berlangsung-ricuh

Ero Pradolly Prasitha

Hopefully article about Rekonstruksi Nanang Selembe Berlangsung Ricuh useful for Om Goegel loyal readers. Know more about me, please read more on WHO AM I? page. Great thanks.

Number of Posts:

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

RULES:
1. Hindari komentar SARA, porno, atau melanggar HAM
2. Disini bukan zona pertikaian (silahkan bertikai di ring lain)
3. Link tidak jelas serta mengarah ke pelanggaran kode etik dan hukum yang berlaku adalah HARAM disini
4. Penulis tidak bertanggung jawab atas apapun bentuk efek samping dari penyalahgunaan atau penyalahartian terhadap apapun konten dari blog ini
5. Penulis memiliki hak untuk menolak/menghapus komentar yang dianggap melanggar pasal-pasal di atas

PS:
“Jadilah orang yang sopan dan cerdas dalam berkomentar”.
Ask if you are not sure and/or don’t know or eager to know more,
Give solution if you found any errors, stop komentar-komentar kosong!

Contact Form

Name

Email *

Message *