#PONTIANAK242: Dulunye Hutan Sekarang Menjadi Kote

Pada tahun 1771, ada seorang yang bernama Syarif Abdurrahman Alkadrie putra dari Al Habib Husin (seorang penyebar ajaran Islam yang berasal dari Arab).

Berawal dari suatu kisah, tiga bulan setelah ayahnya wafat pada tahun 1184 Hijriah di Kerajaan Mempawah, Syarif Abdurrahman Alkadrie ini bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru.

Mereka berangkat dengan 14 perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti.
Waktu dhohor (atau sering disebut Dzuhur) mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong.
Namun Syarif Abdurrahman Alkadrie mendapat firasat bahwa tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal dan ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif Abdurrahman dan rombongan sholat dzuhur itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor.

Ketika menyusuri Sungai Kapuas, mereka menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman beserta keturunannya dimakamkan.
Di pulau itu mereka mulai mendapat gangguan Hantu Pontianak (sekarang lebih dikenal dengan nama Kuntilanak).
Syarif Abdurrahman lalu memerintahkan kepada seluruh pengikutnya agar memerangi hantu-hantu itu.

Illustrasi: Menembak Kuntilanak dengan Meriam
Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas.
Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak.

Setelah delapan hari menebang pohon di daratan itu, Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai, dan kemudian tempat tersebut diberi nama Pontianak.
Tempat itu kini berdiri Masjid Jami' (sekarang bernama Masjid Raya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie) dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Beting.

Masjid Raya Sultan Syarif Abdurrahman
Sumber: www.panoramio.com

Keraton Kadariah
Sumber: darwissalafy.blogspot.com

Akhirnya pada tanggal 8 bulan Sya'ban 1192 Hijriah, dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan Matan, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie sebagai Sultan Pontianak Pertama.

Dengan berjalannya kurun waktu, kota Pontianak sekarang dipimpin oleh seorang Walikota.
Walikota Pontianak saat ini dijabat oleh H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. dengan total populasi sebanyak 554.764 jiwa (pada tahun 2010) dan dengan berbagai macam suku bangsa, seperti: Tionghoa, Melayu, Dayak, Bugis, Jawa, dan Madura.
Kota Pontianak adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Barat di Indonesia. Yang secara Geografis terletak pada 0° 02' 24" LU – 0° 01' 37" LS dan 109° 16' 25" – 109° 23' 04" BT.

Kota Pontianak ini juga dikenal sebagai Kota Khatulistiwa.
Karena kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,1 sampai 1,5 meter di atas permukaan laut.
Ditandai dengan Tugu Khatulistiwa yang berada di Pontianak Utara.

Tugu Khatulistiwa

Secara administratif, kota Pontianak dibagi atas Enam kecamatan, yaitu Pontianak Selatan, Pontianak Timur, Pontianak Barat, Pontianak Utara, dan Pontianak Tenggara.
Kemudian dibagi lagi menjadi 29 kelurahan.

Administratif Wilayah Kota Pontianak

Kota Pontianak juga memiliki Pariwisata yang Unik dengan keanekaragaman budaya penduduk Kota Pontianak, yaitu Dayak, Melayu, dan Tionghoa.
Suku Dayak memiliki pesta syukur atas kelimpahan panen yang disebut Gawai, dan Masyarakat Tionghoa memiliki kegiatan pesta tahun baru Imlek, Cap Go Meh, dan perayaan sembahyang kubur (Cheng Beng atau Kuo Ciet) yang memiliki nilai atraktif bagi turis.


Tari Massal (Gawai Dayak 2012)
Sumber: borneotarigas.blogspot.com
Pawai Kendaraan Hias (Gawai Dayak 2012)
Sumber: 
periskoprendy.blogspot.com
Naga (Tionghoa)

Kota Pontianak juga memiliki Lambang.
"Lambang ini bukan sembarang lambang."
Lambang ini memiliki arti yang sangat kuat guna menggambarkan sejarah dan kemakmuran kota Pontianak.

Lambang Kota Pontianak
Lambang Kota Pontianak digambarkan sebagai berikut:
- Bentuk Lambang berupa bulatan Kubah
- Pada sisi sebelah kanan 23 lembar daun Karet dan di sisi kiri 10 lembar daun Kelapa
- Diantara daun-daun tersebut menyinar dari bawah ke atas 5 sinar dan pangkal sinar ditulis angka 1771
- Di tengah-tengah melintang garis Khatulistiwa di atas sungai bercabang tiga
- Tulisan KOTA PONTIANAK membentang dari pangkal daun Karet sampai kepangkal daun Kelapa
Bentuk dari keseluruhan Lambang Daerah ialah bulatan Kubah bertumpu pada pita bertulisan KOTA PONTIANAK, yang berarti KOTA PONTIANAK didirikan dengan ditandai berdirinya sebuah Masjid sebagai lambang Keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Dipandang dari Sudut Warna dan Makna:
- Warna dasar kuning emas melambangkan Keagungan
- Hijau daun melambangkan Kesuburan
- Biru laut melambangkan Keyakinan
- Merah melambangkan Keberanian
- Putih melambangkan Kesucian
- Hitam menunjukkan Garis Khatulistiwa
+ Bulatan Kubah melambangkan Harapan
+ Lima garis sinar berarti Dasar Negara Pancasila
+ Garis melintang hitam di tengah-tengah maksudnya Kota Pontianak terletak tepat pada Garis Khatulistiwa
+ Daun karet dan kelapa melambangkan usaha pokok masyarakat untuk mencapai kemakmuran.
# Sungai bercabang tiga melambangkan Kota Pontianak dibelah sungai bercabang tiga.
# Daun karet 23 lembar dan daun kelapa 10 lembar berarti berdirinya Kota Pontianak pada tanggal 23 Oktober (bulan ke 10)
# Angka 1771 adalah Tahun Masehi berdirinya Kota Pontianak.
# Tulisan Kota Pontianak adalah kedudukan Pemerintah Daerah Kotamadya Pontianak.

Begitulah sejarah singkat berdirinya kota Pontianak.
Semoga dengan menua-nya kota ini bisa menjadi kota yang lebih baik, kota yang menjadi sorotan, kota yang menjadi pusat pariwisata dan perdagangan negeri ini, dan selalu menjadi kota yang terus mendidik anak-anak daerahnya guna meningkatkan mutu dan kualitas untuk ikut serta dalam membangun Kota Pontianak tercinta ini.
Dengan perkembangan zaman yang semakin canggih ini, kita sebagai Putra Asli Kota Pontianak diharapkan dapat membantu dan ikut serta dalam pembangunan dan perkembangan kota kita ini dalam segala hal. 

Sedikit pantun dari saya:
Kate si Amat banyak Kuntilanak,
Kuntianaknye suke nak Melecar.
Selamat Hari Jadi buat Kote #Pontianak,
Semoge maken Jaye dan BERSINAR.
Selamat Hari Kelahiran yang ke 242 (1771-2013) buat Kota Pontianak!! #PONTIANAK242

Updated:
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog #Pontianak242
Yang disposori oleh:
Bentuk Sumbangsih: Uang Tunai 200 Ribu Rupiah
1. Dwi Wahyudi
2. Rohani Syawaliah
3. Bang Gusty
4. Pontianak Creative Association
5. Bang Apri

Dan terimakasih lagi atas Hadiah Utamanya yang berupa:
Bentuk Sumbangsih: Hadiah Tambahan
1. Wedding Pontianak
Hadiah: Voucher Paket Pernikahan Senilai 300 Ribu Rupiah
2. Pontianak Post
Hadiah: Paket Buku Dahlan Iskan dan Koleksi Eksklusif Pontianak Post
3. Bang Ahmad S. DZ.
Hadiah: 3 Buah Buku “Pontianak Heritage” yang Ditandatangani Penulisnya
4. Sang Bintang School
Hadiah: Voucher Senilai 1 Juta Rupiah untuk Paket Pendaftaran “6 Minggu Bisa”
5. Abimanyu Yusuf (Indobit Technology)
Hadiah: Paket Hosting Gratis Selama 1 Tahun

Ero Pradolly Prasitha

Hopefully article about #PONTIANAK242: Dulunye Hutan Sekarang Menjadi Kote useful for Om Goegel loyal readers. Know more about me, please read more on WHO AM I? page. Great thanks.

Number of Posts:

4 comments:

  1. Artikel ini telah dinilai oleh Dewan Juri Lomba Menulis Blog Kota Pontianak 242, nantikan pengumuman hasilnya di Borneo Exotic Cafe Bundaran SMPN 1 Pontianak pada tanggal 16 November 2013 jam 20.00 WIB. Salam blogger...

    Note: Jangan lupa di update ya link sponsornye :-)

    ReplyDelete
  2. Artikel ini telah dinilai oleh Dewan Juri Lomba Menulis Blog Kota Pontianak 242, nantikan pengumuman hasilnya di Borneo Exotic Cafe Bundaran SMPN 1 Pontianak pada tanggal 16 November 2013 jam 20.00 WIB.

    ReplyDelete

RULES:
1. Hindari komentar SARA, porno, atau melanggar HAM
2. Disini bukan zona pertikaian (silahkan bertikai di ring lain)
3. Link tidak jelas serta mengarah ke pelanggaran kode etik dan hukum yang berlaku adalah HARAM disini
4. Penulis tidak bertanggung jawab atas apapun bentuk efek samping dari penyalahgunaan atau penyalahartian terhadap apapun konten dari blog ini
5. Penulis memiliki hak untuk menolak/menghapus komentar yang dianggap melanggar pasal-pasal di atas

PS:
“Jadilah orang yang sopan dan cerdas dalam berkomentar”.
Ask if you are not sure and/or don’t know or eager to know more,
Give solution if you found any errors, stop komentar-komentar kosong!

Contact Form

Name

Email *

Message *